Kini telah aku dapati banyak teman yang telah berubah. Hidupnya sudah mulai naik level, makan di tempat mahal dengan menu aneh-aneh, nongkrong di kedai kopi yang harga secangkirnya bisa buat makan 3 hari ketika masih kuliah, mulai meninggalkan motor, belanja baju dengan merk ternama dll. Ah… Apa iya aku juga begitu? Sedikit sih.. Aku pun mencoba mengontrolnya agar tidak kebablasan. Sungguh aku ingin hidup sederhana seperti masa kuliah dulu. Beli nasi sebungkus lauk seadanya buat makan 2-3 kali. Penyet tempe belakang Masjid Kampus pun terasa nikmatnya kalau di makan rame-rame depan tv kostan. Sedangkan sekarang, tempe jarang sekali ku lirik. Sombongnya diri ini, sekedar makan saja pilih-pilih. Ternyata apa yang kita miliki sekarang akan membentuk perspektif kebahagiaan dan kepuasan. Semakin kita ‘memiliki’ semakin sulit mengendalikan keinginan memiliki yang lain. Hidup sederhana dan bersahaja tidak bisa dikarbit begitu saja. “culture shock” seringkali membuat kita lupa menakar kebahagiaan yang tak perlu banyak ba-bi-bu.
Seandainya kita bisa menurunkan standar bahagia di tengah tuntutan hidup yang semakin membabi buta ini….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar